mahasiswa ikk
IPB Badge
ipb
IPB Badge

1. Gender analisis yang dipakai dalam buku

    Buku Kenakalan Remaja menggunakan gender analisis berdasarkan Teori Struktural Fungsional yang dilandasi oleh fundamental pemikiran, bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat atau family is basic unit of society. Keluarga mempunyai porsi peran yang sangat vital dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya untuk menyesuaikan diri ke dalam kehidupan dunia luar. Tanpa ada peran dan fungsi keluarga, maka generasi muda tidak akan mempunyai karakter dan perilaku yang baik di kemudian hari. (alinea pertama halaman 13)

    Teori struktural-fungsional yang digunakan dalam gender analisis juga menyangkut teori sistem yang menjelaskan adanya komponen-komponen yang saling bergantung antara satu dengan yang lain. Dalam studi gender ini digunakan logika berpikir secara teori struktural-fungsional dan teori system, bahwa keluarga terdiri dari anggota-anggota keluarga yang saling berpengaruh satu dengan yang lain. Keluarga mempunyai aturan dan keluarga menjalankan fungsinya. Apabila keluarga mempunyai struktur yang kokoh dan menjalankan semua fungsinya dengan optimal, maka akan menghasilkan outcome yang baik pada seluruh anggota keluarga. (alinea kedua halaman 13)

    Disamping peraturan dan fungsi yang ada di keluarga, pihak sekolah juga mempunyai andil besar dalam aspek kognitif dan psikomotorik. Dengan kata lain lingkungan memberikan kontribusi pada perkembangan anak. Semakin jelas bahwa ada keterkaitan antara individu (perkembangan remaja), keluarga (sebagai fondasi primer remaja) dan masyarakat (sebagai pengaruh baik atau buruknya perkembangan kepribadian anak) sesuai dengan model ekologi keluarga berkaitan dengan sosialisasi anak dari Bronfenbrenner. Kenakalan remaja merupakan suatu outcome dari proses hubungan antara anggota keluarga dan antara sistem keluarga dan system lingkungan sekitarnya. (alinea ketiga dan keempat hlaman 13)

    Pendekatan struktural-fungsional juga menekankan pada keseimbangan system yang stabil dalam keluarga dan kestabilan sistem dalam masyarakat. Pendekatan ini berfungsi untuk menganalisis peran keluarga agar dapat berfungsi dengan baik untuk menjaga keutuhan keluarga dan masyarakat. (alinea keempat halaman 32)

    2. Perbedaan hubungan dan perilaku antara :

      a.  Ayah dan anak laki-laki

      Seorang ayah yang ideal adalah ayah yang menyadari tanggung jawabnya sebagai pelindung keluarga dan turut bertanggung jawab dalam pengasuhan anaknya, mulai anak lahir sampai dewasa. Sebagai pengasuh, seorang ayah dapat melakukan berbagai cara untuk menstimulasi perkembangan psiko-sosial anaknya. Dalam hal pendidikan, peran ayah dalam keluarga sangat penting untuk dijadikan panutan. Terutama bagi anak laki-lakinya, ayah menjadi model (role model), teladan untuk perannya kelak sebagai seorang laki-laki. (alinea kedua halaman 86)

      Seorang ayah di Negara Barat memiliki hubungan dan perilaku terhadap anak laki-laki cenderung tegas, dalam hal mendidik anak laki-lakinya mengenai bagaimana membedakan hal-hal yang salah atau benar dan lebih memperhatikan kesuksesan anak laki-lakinya. (alinea ketiga halaman 83).

      Setengah dari contoh pada buku Kenakalan Remaja melaporkan adanya hubungan yang hangat dan mendukung dari pihak ayah terhadap anak laki-lakinya yang tercermin dari perilaku ayah yang menanyakan pendapat, mendengarkan pendapat, menghargai pendapat, memberikan kepedulian, mencintai dengan hangat, membantu pekerjaan, tertawa bersama, bertindak sportif dan pengertian, dan menyatakan cinta kepada anaknya. (alinea pertama halaman 100)

      Ayah dan anak laki-lakinya mempunyai hubungan kehangatan dan dukungan paling maksimal yaitu perlakuan ayah yang mencintai dengan hangat, dan menghargai pendapat anaknya. Adapun hubungan kehangatan dan dukungan yang paling minimal dilakukan ayah pada anak laki-lakinya adalah perlakuan ayah yang menanyakan pendapat dan menyatakan cinta pada anaknya. (alinea pertama halaman 100)

      Selanjutnya kurang dari sepertiga dari jumlah contoh laki-laki melaporkan adanya hubungan yang keras dan kasar dari ayah terhadap anak laki-lakinya yang tercermin dalam perilaku ayah yang marah-marah, mengkritik pendapat, membentak atau berteriak, mengabaikan mengancam, menbuat perasaan bersalah, memukul menarik rambut, bertengkar, menangis tersedu-sedu apabila tidak puas dengan perbuatan anak laki-lakinya, menyindir atau sumpah serapah, berbicara dengan  kasar, dan memanggil, dengan panggilan yang jelek terhadap anak laki-lakinya. Selain itu perlakuan kekerasan dari ayah terhadap anak laki-lakinya terutama berhubungan dengan perilaku fisik  seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami sekitar sepersepuluh contoh laki-laki. (alinea kedua halaman 100)

      Berdasarkan analisis gender didapatkan hasil, bahwa proporsi contoh laki-laki adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ayahnya terhadap anak laki-lakinya untuk perilaku menanyakan pendapat, mendengarkan dengan cermat, dan mencintai dengan hangat dibandingkan dengan contoh perempuan. Adapun perilaku ayah yang bersifat kekerasan dan kekasaran terhadap anaknya lebih tinggi pada contoh laki-laki dibandingkan contoh perempuan. (alinea ketiga halaman 100-101)

      b.  Ayah dan anak perempuan

      Sosok ayah yang ideal merupakan ayah yang menyadari tanggung jawabnya sebagai pelindung keluarga dan turut bertanggung jawab dalam pengasuhan anaknya, mulai anak lahir sampai dewasa. Sebagai pengasuh, seorang ayah dapat melakukan berbagai cara untuk menstimulasi perkembangan psiko-sosial anaknya . Dalam hal pendidikan, peran ayah dalam keluarga sangat penting untuk dijadikan panutan. Terutama bagi anak perempuan, fungsi ayah juga sangat penting yaitu sebagai pelindung dan penyayang serta model teladan tentang seorang pemimpin. (alinea kedua halaman 86)

      Ayah dan anak perempuannya mempunyai bonding yang jauh lebih kuat, selamanya dan tidak terpisahkan meskipun sudah menikah, artinya anak perempuan akan tetap menjadi anak perempuan bagi ayahnya. Bahkan anak perempuan menjadi sumber kebahagiaan yang yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-lakinya, dan mungkin dapat membuat ayahnya menangis dibandingkan dengan anak laki-lakinya.. (alinea pertama halaman 84)

      Setengah dari contoh yang ada pada buku Kenakalan Remaja melaporkan adanya hubungan yang hangat dan mendukung dari pihak ayah terhadap anak lperempuannya yang tercermin dari perilaku ayah yang menanyakan pendapat, mendengarkan pendapat, menghargai pendapat, memberikan kepedulian, mencintai dengan hangat, membantu pekerjaan, tertawa bersama, bertindak sportif dan pengertian, dan menyatakan cinta kepada anaknya. (alinea pertama halaman 100)

      Ayah dan anak perempuannya mempunyai hubungan kehangatan dan dukungan paling maksimal yaitu perlakuan ayah tertawa bersama apabila ada hal-hal yang lucu. Adapun hubungan kehangatan dan dukungan yang paling minimal dilakukan ayah pada perempuannya adalah perlakuan ayah yang menanyakan pendapat dan menyatakan cinta pada anaknya. (alinea pertama halaman 100)

      Selanjutnya kurang dari seperlima dari jumlah contoh perempuan melaporkan adanya hubungan yang keras dan kasar dari ayah terhadap anak perempuan yang tercermin dalam perilaku ayah yang marah-marah, mengkritik pendapat, membentak atau berteriak, mengabaikan mengancam, menbuat perasaan bersalah, memukul menarik rambut, bertengkar, menangis tersedu-sedu apabila tidak puas dengan perbuatan anak laki-lakinya, menyindir atau sumpah serapah, berbicara dengan  kasar, dan memanggil, dengan panggilan yang jelek terhadap anak laki-lakinya. Selain itu perlakuan kekerasan dari ayah terhadap anak perempuannya terutama berhubungan dengan perilaku fisik  seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami sekitar seperduapuluh contoh perempuan. (alinea kedua halaman 100)

      Berdasarkan analisis gender didapatkan hasil, bahwa proporsi contoh perempuan adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ayahnya terhadap perempuannya untuk perilaku memberitahu kalau peduli, membantu mengerjakan sesuatu, tertawa bersama, dan mengatakan cinta dibandingkan dengan contoh laki-laki. (alinea ketiga halaman 100-101)

      c. Ibu dan anak laki-lakis

      Hubungan ibu kepada anak laki-lakinya dalam hal perhatian lebih kepada makanan daripada hal yang lainnya dan memberikan kenyamanan dibandingkan dengan anak perempuannya. (alinea pertama halaman 84).

      Hasil menunjukan tiga-perempat dari jumlah contoh pada buku Kenakalan Remaja melaporkan adanya hubungan yang hangat dan mendukung dari pihak ibu terhadap anak laki-lakinya. Diantara pernyataan-pernyataan hubungan kehangatan dan dukungan paling maksimal dilakukan oleh ibu pada anak laki-lakinya adalah perlakuan ibu yang menghargai pendapat dan perbuatannya anaknya. Adapun hubungan kehangatan dan dukungan yang paling minimal dilakukan ibu pada anak laki-lakinya adalah perlakuan ibu yang menyatakan cinta pada anaknya. (alinea pertama halaman 101)

      Selanjutnya kurang dari setengah dari jumlah contoh melaporkan adanya hubungan yang keras dan kasar dari ibu terhadap anaknya. Selain itu perlakuan kekerasan dari ibu terhadap anak laki-lakinya terutama berhubungan dengan perilakuan fisik  seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami sekitar seperlima contoh laki-laki. (alinea kedua halaman 101)

      Berdasarkan analisis gender didapatkan hasil, perilaku ibu yang bersifat kekerasan dan kekasaran terhadap anaknya lebih tinggi terjadi pada contoh laki-laki untuk hampir semua butir pernyataan dibandingkan dengan contoh perempuan, kecuali perilaku marah-marah, mengkritik, dan bertengkar pada anaknya.  (alinea ketiga halaman 101)

      d. Ibu dan anak perempuan

      Hasil menunjukan tiga-perempat dari jumlah contoh pada buku Kenakalan Remaja melaporkan adanya hubungan yang hangat dan mendukung dari pihak ibu terhadap anak perempuannya. Diantara pernyataan-pernyataan hubungan kehangatan dan dukungan paling maksimal dilakukan oleh ibu pada anak perempuan adalah perlakuan ibu yang menghargai pendapat dan perbuatannya anaknya dan tertawa bersama apabila ada hal-hal yang lucu. Adapun hubungan kehangatan dan dukungan yang paling minimal dilakukan ibu pada anak perempuan adalah perlakuan ibu yang menyatakan cinta pada anaknya. (alinea pertama halaman 101)

      Selanjutnya kurang dari setengah dari jumlah contoh melaporkan adanya hubungan yang keras dan kasar dari ibu terhadap anaknya. Selain itu perlakuan kekerasan dari ibu terhadap anak perempuannya terutama berhubungan dengan perilakuan fisik  seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami sekitar sepersepuluh contoh perempuan. (alinea kedua halaman 101)

      Berdasarkan analisis gender didapatkan hasil, bahwa proporsi contoh perempuan adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ibu terhadap anak perempuannya. (alinea ketiga halaman 101)

      3. Jenis kenakalan pelajar laki-laki dan perempuan

        a.  Kenakalan Umum

        Merupakan perilaku penyimpangan dari norma yang merugikan diri sendiri namun masih belum melanggar hokum formal. Kenakalan tersebut seperti membolos, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, menyontek, tidak membayar SPP karena terpakai pesta sampai larut malam, duduk-duduk di pinggir jalan, menggoda ‘cewek-cewek tau cowok’, dan merokok serta terlambat sekolah. (alinea ketiga halaman 157)

        Sekitar dua-pertiga sampai tiga-perempat contoh melaporkan tentang kebiasaan perilakunya bergerombol saat pulang atau pergi ke sekolah, dan pulang sekolah langsung main dahulu, terlambat datang ke sekolah. Kebiasaan membolos sekolah tanpa ijin dilaporkan lebih dari setengah conto dan minggat dari rumah minimal pernah dilakukan hampir seperlima contoh. (alinea keempat halaman 159)

        Hasil uji statistik menunjukan kenakalan umum dan kenakalan kriminal serta kenakalan total contoh laki-laki lebih tinggi dari contoh perempuan. Kebiasaan merokok dilakukan hampir setengah contoh dengan frekuensi hampir setiap hari. Kebiasaan menggoda lawan jenis di jalanan hampir tiga-perempat contoh dengan kebiasaan duduk-duduk di pinggir jalan mengganggu rang dan berpesta sampai malam. Kenakalan umum yang cenderung berpeluang terhadap kenakalan kriminal yang dilakukan oleh contoh cukup memprihatinkan dan berhubungan dengan penggunaan media media menuju kebebasab seks yaiitu nonton VCD porno dan melihat gambar porno. Kenakalan ini mengarah pada pergaulan seks bebas yang tidak sedikit berkaitan dengan kasus perkosaan. (alinea kelima halaman 159)

        Contoh laki-laki menunjukan kenakalan remaja yang lebih banyak dibandingkan contoh perempuan. Contoh laki-laki mendominasi perbuatan kenakalan umum mulai dari membolos sekolah, berpesta sampai malam, duduk di pinggir jalan mengganggu orang, menggoda “cewek tau cowok’ di jalanan, minggat dan merokok. Contoh perempuan banyak melakukan kenakalan umum seperti membolos, berpesta sampai malam, minggat dan merokok. (alinea keenam halaman 160)

        b. Kenakalan Kriminal

        Merupakan perilaku penyimpangan dari norma dan bahkan melanggar norma hukum formal. Kenakalan kriminal menyangkut prbuatan ditangkap polisi karena berkelahi, narkoba, minuman beralkohol atau membawa senjata tajam, masuk ke rumah orang tanpa ijin, mencuri barang, memukul dan menyerang, melakukan hubungan seks diluar nikah, grafiti ‘corat coret’ tembok, nge-lem, dan menonton gambar porno. (alinea ketujuh halaman 160)

        Berdasarkan analisis data kebiasaan minum beralkohol 1,4 persen dan menggunakan narkoba 8,8 persen. Kenakalan criminal yang paling banyak dilakukan oleh responden adalah bergerombol saat pulang atau pergi sekolah 71,5 persen, mencorat-coret tembok milik umum 52, 6 persen, berpesta pora sampai malam 41,1 persen, berkelahi sesama pelajar meskipun frekuensinya jarang 40 persen, dan secara sengaja merusak benda milik orang lain 34,5 persen. (alinea kedelapan halaman 161)

        Kenakalan kriminal lain yang pernah dilakukan dan cukup membahayakan adalah memukul seseorang sampai terluka 20,4 persen, memukul seseorang dengan senjata 12,3 persen, dan membawa senjata tajam ke sekolah 13 persen. Selain itu juga ditemukan ada 25,3 persen contoh yang menghalalkan segala cara demi kelancaran rencana yang akan dilakukan, 4,6 persen melaporkan pernah mencuri barang, 7 persen contoh mengendarai motor atau mobil milik orang lain tanpa permisi dan 7,8 persen contoh pernah menggunakan senjata atau kekuatan untuk mendapatkan uang atau barang lain. (alinea kesembilan halaman 161)

        Kurang dari seperduapuluh contoh sekolah negeri dan sepersepuluh contoh swasta pernah melakukan hubungan seks bebas di luaar nikah dengan frekuensi hampir tiap hari, maksimum tiga kali per minggu dan satu kali per bulan. (alinea kesepuluh halaman 161)

        4. Proses kenakalan remaja

          Hasil analisis Multivariate of Covariance (MANCOVA) dapat ditarik kesimpulan bahwa proses kenakalan remaja baik umum maupun kriminal  dipengaruhi oleh oleh jenis kelamin contoh yang lebih besar pada contoh laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Penelitian ini menjelaskan bahwa pengasuhan ibu yang kurang baik berpengaruh nyata pada tingkat kenakalan umum dan criminal, sedangkan pengasuhan ayah yang kuarang baik hanya berpengaruh pada tingkat kenakalan umum saja. (alinea pertama halaman 173)

          Kenakalan umum maupun criminal masing-masing dipengaruhi oleh sifat kepribadian. Contoh yang mempunyai sifat semakin maskulin dan ekstrovert cenderung untuk berperilaku nakal dibandingkan dengan contoh yang mempunyai sifat feminism dan introvert. Kenakalan umum maupun kriminal, masing-masing dipengaruhi oleh pengasuhan ibunya dan ayahnya. Pengasuhan ibu dan ayah terhadap contoh yang lebih dilandasi oleh kehangatan dan dukungan akan mempengaruhi pada penurunan tingkat kenakalan remaja. (alinea kedua halaman 173)

          Proses kenakalan remaja dimulai dari keadaan lingkungan mikro dari keluarga inti yang tidak stabil dan harmonis akan membuat remaja merasa tidak aman dan nyaman, seperti keadaan pengasuhan anak cenderung kasar dan keras, tidak demokratis, komunikasi dan interaksi keluarga kurang harmonis, bonding natara keluarga kurang dekat, fungsi keluarga kurang optimal, sosial ekonomi keluarga kurang baik dan tekanan ekonomi keluarga tinggi. (alinea pertama halaman 204)

          Ditambah lagi dengan keadaan lingkungan meso yang tidak memberikan dukungan dan bantuan baik moril maupun material, maka akan membuat anak merasa tidak mempunyai arti hidup yang bermakna, dan mulai merasa sepi dan hampa. Selanjutnya kenakalan remaja mulai muncul ketika keadaan lingkungan meso di sekolah yang tidak memfasilitasi dengan baik akan membuat anak semakin stress dan frustasi. Hal ini  karena tidak adanya fasilitas yang memadai, rasio kelas dan murid rendah, rasio guru dan murid rendah, peran komite sekolah kurang optimal, keadaan guru BP tidak ada, dan kurangnya kordinasi sekolah denga orang tua. (alinea ketiga halaman 204-205)

          Dampak dari keterbatasan kemampuan kinerja sistem keluarga dan lingkungan sekolah membuat pelajar semakin stres dan frustasi, akibatnya pelajar tidak tersalurkan energinya, pelajar tidak dapat olahraga dengan bebas, dan pelajaran ekstrakurikuler tidak memadai dan mahal. (alinea keempat halaman 205)

          Outcome dari pelajar sebagai akibat dari kurang berfungsinya sistem keluarga dan system lingkungan sekolah adalah kenakalan remaja. Diantaranya adalah pelajar merasa stres, pelajar kurang menghargai diri sendiri, pelajar berperilaku agresif, dan pelajar berperilaku melakukan kenakalan umum seperti membolos atau terlambat, nongkrong di jalan, mengganggu teman, menyelewengkan uang SPP dan merokok. Pelajar yang melakukan kenakalan kriminal diantaranya mengonsumsi narkoba, minuman keras, mamalak atau mencuri, berkelahi dan menyakiti orang lain, dan melakukan free sex.

          Comments are closed.