Bicara dan bahasa merupakan sarana yang penting manusia untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Anak sebagai mahluk sosial sudah bisa melakukan komunikasi sejak lahir. Di mana tujuan utama komunikasi adalah menyampaikan informasi secara tepat dan cepat melalui wicara, tulisan dan gerakan isyarat. Seorang anak yang mempunyai kelainan berkomunikasi akan mengalami kesulitan untuk mengadakan interaksi dengan lingkungannya misalnya pada anak dengan autisme.
Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan termasuk pada anak dengan autisme. Komunikasi untuk menyampaikan isi pikiran, perasaan dan emosi dengan orang lain pada anak dengan autisme dikemukakan dengan simbol verbal atau akustik. Sehingga tidak dapat membentuk hubungan sosial dan komunikasi yang normal.
Pada umumnya penyandang autisme mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau bahkan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak merespon terhadap kontak sosial ( pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya ).
Di tahun pertama maupun kedua, anak penyandang autisme dapat tampak normal dalam perkembangannya. Seringkali orang tua menyadari anaknya keterlambatan bicara dan bahasa ketika bermain dan berinteraksi dengan lingkungannya. Agar anak penyandang autisme dapat berinteraksi dengan yang lain diperlukan terapi.
A. Kesenyapan Anak Penyandang Autisme
Anak penyandang autisme cenderung pendiam, ketika berada di tengah-tengah mereka. Kesenyapan itulah yang akan didapatkan saat penyandang autisme berkumpul, walaupun pada suasana yang santai sekalipun. Jangan terlalu berharap mendengar suara atau gurauan mereka.
Walaupun ada penyandang autisme yang cenderung suka berbicara, tetapi apabila didengarkan secara seksama, akan diketahui bahwa hanya semacam “igauan” saja bukan bahasa yang bermakna. Mereka hanya mampu mengulang-ulang kata yang didengarnya (membeo). Bagi mereka yang belum mendapatkan pendidikan dan latihan taupun terapi, mereka bisa diibaratkan anak “aneh ” yang sulit disentuh dengan bahasa. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, mengingat bahasa adalah sarana komunikasi untuk menjalin interaksi sosial tidak terkecuali anak penyandang autisme. Oleh karena itu mereka membutuhkan perhatian yang khusus terutama bahasa sehingga mampu mengungkapkan perasaan, emosi, dan pikirannya.
Keterlambatan kemampuan berbahasa mengakibatkan mereka menjadi terasing dari orang di sekitarnya dan lingkungan. Keterasingannya mereka terkadang memunculkan reaksi yang mungkin tidak lazim bagi orang di sekitanya. Hal ini merupakan bentuk ekspresi akibat ketidaksesuaian terhadap respon yang diharapkan dan diwujudkan dalam bentuk ungkapan emosi seperti menangis, marah, memukul-mukul, dan mondar-mandir.
B. Penyusupan Bahasa pada Penyandang Autisme
Anak penyandang autisme memiliki kecerdasan yang bervariasi, bahkan sebagian besar mengalami keterbelakangan mental. Oleh karena itu, sebelum terapi bahasa harus mengetahui kemampuan menguasai materi pelajaran dan mengelola perilaku autistik yang mengganggu dan perilaku autistiknya.
Permasalahan yang dimiliki anak-anak penyandang autisme saat mempelajari kata-kata sederhana yaitu begitu banyak kalimat mereka yang memiliki ciri ekolali ( membeo atau mengulang kata), penggunaan bahasa mereka sering tidak ada kreativitas dan daya cipta, dan membatasi diri pada pengulangan kalimat yang telah diucapkan orang lain. Tetapi, bahasa harus menjadi bagian anak penyandang autisme agar bisa berinteraksi sosial. Oleh Karena itu, masalah pemaknaan dan pemahaman tentang benda-benda, kejadian, dan orang lain harus dihadirkan terlebih dahulu pada anak penyandang autisme dari pada sesuatu yang abstrak karena sangat sulit dipahami. Lebih mudah menyusupkan kata yang bersifat konkrit. Sehingga mereka tidak mengerti tentang norma, rasa dan ketuhanan.
Penyusupan bahasa pada penyandang autisme tidak langsung mempelajari kalimat lengkap. Diperlukan adanya tahapan-tahapan dalam mengembangkan bahasa. Tahapan perkembangan bahasa selalu dimulai dengan kalimat satu kata yang mencerminkan hubungan konseptual.
Dilihat segi bahasa tulis, pelekatan bahasa, dimulai dengan pengenalan seluruh abjad alphabet. Kemudian berlanjut pada penyukuan yang terdiri atas dua huruf (gabungan huruf vocal dan konsonan). Setelah itu, penggabungan penyukuan atau pengulangan penyukuan yang dikaikan dengan pemahaman benda, kejadian, dan orang lain. Pada akhirnya pengenalan kata dan tanda baca. Begitu tahap berikutnya disentuh, tahap sebelumnya tetap dimunculkan kembali. Cara semacam ini dilakukan terus-menerus untuk mengetahui adanya konsentrasi dan pemahaman penyandang autisme terhadap bahasa.
Awal masuknya bahasa pada diri penyandang autisme dengan kontak mata, yang diperlukan agar perhatian terfokus atau mereka mengenal lawan bicara. Dari kontak matalah diketahui kesiapan penyandang autisme untuk dimasuki bahasa dalam bentuk rentetan kata-kata bermakna. Setelah itu, tahap selanjutnya adalah kontak fisik. Lewat sentuhan dan rabaan, penyandang autisme dikenalkan pada benda dan kata, situasi dan kata, atau tempat dan kata. Sentuhan fisik disertai dengan pelafalan kata yang sangat penting untuk meningkatkan pemahaman penyandang autisme terhadap suatu kata.
Kesuksesan penyusupan bahasa pada diri penyandang autism sangat ditentukan oleh kemampuan penyandang autism tersebut berkonsentrasi. Latihan terberat adalah mepertahankan konsentrasi. Terbangunnya konsentrasi dengann cara menyadarkan mereka pada apa yang seharusnya dikerjakan. Penyadaran ini dilakukan denga cara memanggil nama mereka secara berulang-ulang dengan suara nyaring, sentuhan, menunjukan hal-hal atau benda yang disukai, dan pemaksaan.
Hal yang perlu diingat selama proses menjalani terapi bahasa ini adalah tidak menirukan kata-kata penyandang autism, walaupun sekedar ekolali karena hali ini bisa memancing amarah dan merusak konsentrasi penyandang autism. Selain itu, terapi sebaiknya dilakukan secara individual dalam suatu ruang tertutup sehingga perhatiannya tidak mudah terpecah.
C. Bahasa dan Autisme
Penyandang autisme dianggap sudah mampu berbahasa jika sudah bisa diajak bicara dan mampu menulis. Walaupun yang dikatakan atau ditulis itu sebatas memenuhi tuntutan yang ditunjukan pada dirinya atau kata-katanya terbatas kata kunci yang dianggap memenuhi keinginan lawan bicaranya.
Ada penyandang autism yang memilki IQ melebihi normal, bahkan menduduki peringkat teratas mengalahkan anak normal di sekolah umum. Hal ini karena otak kanan mereka masih normal, maka seringkali diharapkan memilki kepandaian istimewa. Sesungguhnya sepertiga anak penyandang autisme memiliki intelegensi tinggi. Semakin tinggi intelegensinya dan semakin besar kemampuan komunikasinya maka semakin besar kemungkinannya mengikuti pendidikan umum bersana anak normal. Intelegensi tersebut bermanfaat karena dia banyak memperoleh belajar dengan orang lain.
Perlu diingat bahwa anak penyandang autisme memiliki keterbatasan atau gangguan lain yang perlu dipearhatikan seperti, komunikasi, sosialisasi, gangguan memfokuskan perhatian, dan ada juga yang hiperaktif. Maka selain program yang sesuai dengan tingkat intelegensinya, perlu penyesuaian program dengan gangguan autisti lainnya.
D. Kesimpulan
Melalui terapi wicara kemampuan penyandang autisme bisa digali. Terapi wicara merupakan metode pembelajaran bahasa tidak hanya belajar lisan tetapi juga tulis. Keberhasilan terapi wicara tampak dari kemampuan dalam mengemukakan pengetahuan yang telah diserapnya melalui bahasa lisan atau bahasa tulis. Dalam perkembangan bahasa penyandang autisme perlu adanya penanganan gejala autisme sejak dini sehingga penyandang autisme dapat menemukan bakat dan kemampuan agar mandirii menopang kehidupannya. Selain itu perlu menjalin komunikasi dan interaksi dengan penyandang autisme secara terus-menerus.

