mahasiswa ikk
IPB Badge
ipb
IPB Badge

Bicara dan bahasa merupakan sarana yang penting manusia untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya. Anak sebagai mahluk sosial  sudah bisa melakukan komunikasi sejak lahir. Di mana tujuan utama komunikasi adalah menyampaikan informasi secara tepat dan cepat melalui wicara, tulisan dan gerakan isyarat. Seorang anak yang mempunyai kelainan berkomunikasi akan mengalami kesulitan untuk mengadakan interaksi dengan lingkungannya misalnya pada anak dengan autisme.

Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan termasuk pada anak dengan autisme. Komunikasi untuk menyampaikan isi pikiran, perasaan dan emosi dengan orang lain pada anak dengan autisme dikemukakan dengan simbol verbal atau akustik. Sehingga tidak dapat membentuk hubungan sosial dan komunikasi yang normal.

Pada umumnya penyandang autisme mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau bahkan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak merespon terhadap kontak sosial ( pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya ).

Di tahun pertama maupun kedua, anak penyandang autisme dapat tampak normal dalam perkembangannya. Seringkali orang tua menyadari anaknya keterlambatan bicara dan bahasa ketika bermain dan berinteraksi dengan lingkungannya. Agar anak penyandang autisme dapat berinteraksi dengan yang lain diperlukan terapi.

A. Kesenyapan Anak Penyandang Autisme

Anak penyandang autisme cenderung pendiam, ketika berada di tengah-tengah mereka. Kesenyapan itulah yang akan didapatkan saat penyandang autisme berkumpul, walaupun pada suasana yang santai sekalipun. Jangan terlalu berharap mendengar suara atau gurauan mereka.

Walaupun ada penyandang autisme yang cenderung suka berbicara, tetapi apabila didengarkan secara seksama, akan diketahui bahwa hanya semacam “igauan” saja bukan bahasa yang bermakna. Mereka hanya mampu mengulang-ulang kata yang didengarnya (membeo). Bagi mereka yang belum mendapatkan pendidikan dan latihan taupun terapi, mereka bisa diibaratkan anak “aneh ” yang sulit disentuh dengan bahasa. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, mengingat bahasa adalah sarana komunikasi untuk menjalin interaksi sosial tidak terkecuali anak penyandang autisme. Oleh karena itu mereka membutuhkan perhatian yang khusus terutama bahasa sehingga mampu mengungkapkan perasaan, emosi, dan pikirannya.

Keterlambatan kemampuan berbahasa mengakibatkan mereka menjadi terasing dari orang di sekitarnya dan lingkungan. Keterasingannya mereka terkadang memunculkan reaksi yang mungkin tidak lazim bagi orang di sekitanya. Hal ini merupakan bentuk ekspresi akibat ketidaksesuaian terhadap respon yang diharapkan dan diwujudkan dalam bentuk ungkapan emosi seperti menangis, marah, memukul-mukul, dan mondar-mandir.

B. Penyusupan Bahasa pada Penyandang Autisme

Anak penyandang autisme memiliki kecerdasan yang bervariasi, bahkan sebagian besar mengalami keterbelakangan mental. Oleh karena itu, sebelum terapi bahasa harus mengetahui kemampuan menguasai materi pelajaran dan mengelola perilaku autistik yang mengganggu dan perilaku autistiknya.

Permasalahan yang dimiliki anak-anak penyandang autisme  saat mempelajari kata-kata sederhana  yaitu begitu banyak kalimat mereka yang memiliki ciri ekolali ( membeo atau mengulang kata), penggunaan bahasa mereka sering tidak ada kreativitas dan daya cipta, dan membatasi diri pada pengulangan kalimat yang telah diucapkan orang lain. Tetapi, bahasa harus menjadi bagian anak penyandang autisme agar bisa berinteraksi sosial. Oleh Karena itu, masalah pemaknaan dan pemahaman tentang benda-benda, kejadian, dan orang lain harus dihadirkan terlebih dahulu pada anak penyandang autisme dari pada sesuatu yang abstrak karena sangat sulit dipahami. Lebih mudah menyusupkan kata yang bersifat konkrit. Sehingga mereka tidak mengerti tentang norma, rasa dan ketuhanan.

Penyusupan bahasa pada penyandang autisme tidak langsung mempelajari kalimat lengkap. Diperlukan adanya tahapan-tahapan dalam mengembangkan bahasa. Tahapan perkembangan bahasa selalu dimulai dengan kalimat satu kata yang mencerminkan hubungan konseptual.

Dilihat segi bahasa tulis, pelekatan bahasa, dimulai dengan pengenalan seluruh abjad alphabet. Kemudian berlanjut pada penyukuan yang terdiri atas dua huruf (gabungan huruf vocal dan konsonan). Setelah itu, penggabungan penyukuan atau pengulangan penyukuan yang dikaikan dengan pemahaman benda, kejadian, dan orang lain. Pada akhirnya pengenalan kata dan tanda baca. Begitu tahap berikutnya disentuh, tahap sebelumnya tetap dimunculkan kembali. Cara semacam ini dilakukan terus-menerus untuk mengetahui adanya konsentrasi dan pemahaman penyandang autisme terhadap bahasa.

Awal masuknya bahasa pada diri penyandang autisme dengan kontak mata, yang diperlukan agar perhatian terfokus atau mereka mengenal lawan bicara. Dari kontak matalah diketahui kesiapan penyandang autisme untuk dimasuki bahasa dalam bentuk rentetan kata-kata bermakna. Setelah itu, tahap selanjutnya adalah kontak fisik. Lewat sentuhan dan rabaan, penyandang autisme dikenalkan pada benda dan kata, situasi dan kata, atau tempat dan kata. Sentuhan fisik disertai dengan pelafalan kata yang sangat penting untuk meningkatkan pemahaman penyandang autisme terhadap suatu kata.

Kesuksesan penyusupan bahasa pada diri penyandang autism sangat ditentukan oleh kemampuan penyandang autism tersebut berkonsentrasi. Latihan terberat adalah mepertahankan konsentrasi. Terbangunnya konsentrasi dengann cara menyadarkan mereka pada apa yang seharusnya dikerjakan. Penyadaran ini dilakukan denga cara memanggil nama mereka secara berulang-ulang dengan suara nyaring, sentuhan, menunjukan hal-hal atau benda yang disukai, dan pemaksaan.

Hal yang perlu diingat selama proses menjalani terapi bahasa ini adalah tidak menirukan kata-kata penyandang autism, walaupun sekedar ekolali karena hali ini bisa memancing amarah dan merusak konsentrasi penyandang autism. Selain itu, terapi sebaiknya dilakukan secara individual dalam suatu ruang tertutup sehingga perhatiannya tidak mudah terpecah.

C. Bahasa dan Autisme

Penyandang autisme  dianggap sudah mampu berbahasa jika sudah bisa diajak bicara dan mampu menulis. Walaupun yang dikatakan atau ditulis itu sebatas memenuhi tuntutan yang ditunjukan pada dirinya atau kata-katanya terbatas kata kunci yang dianggap memenuhi keinginan lawan bicaranya.

Ada penyandang autism yang memilki IQ melebihi normal, bahkan menduduki peringkat teratas mengalahkan anak normal di sekolah umum. Hal ini karena otak kanan mereka masih normal, maka seringkali diharapkan memilki kepandaian istimewa. Sesungguhnya sepertiga anak penyandang autisme memiliki intelegensi tinggi. Semakin tinggi intelegensinya dan semakin besar kemampuan komunikasinya maka semakin besar kemungkinannya mengikuti pendidikan umum bersana anak normal. Intelegensi tersebut bermanfaat karena dia banyak memperoleh belajar dengan orang lain.

Perlu diingat bahwa anak penyandang autisme memiliki keterbatasan atau gangguan lain yang perlu dipearhatikan seperti, komunikasi, sosialisasi, gangguan memfokuskan perhatian, dan ada juga yang hiperaktif. Maka selain program yang sesuai dengan tingkat intelegensinya, perlu penyesuaian program dengan gangguan autisti lainnya.

D. Kesimpulan

Melalui terapi wicara kemampuan penyandang autisme bisa digali. Terapi wicara merupakan metode pembelajaran bahasa tidak hanya belajar lisan tetapi juga tulis. Keberhasilan terapi wicara tampak dari kemampuan dalam mengemukakan pengetahuan yang telah diserapnya melalui bahasa lisan atau bahasa tulis. Dalam perkembangan bahasa penyandang autisme perlu adanya penanganan gejala autisme sejak dini sehingga penyandang autisme dapat menemukan bakat dan kemampuan agar mandirii menopang kehidupannya. Selain itu perlu menjalin komunikasi dan interaksi dengan penyandang autisme secara terus-menerus.

Rabu, 9 Desember 2009 | 13:31 WIB

KOMPAS.com – Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab terhambatnya tumbuh-kembang anak yang sering ditemui. Adapun gangguan yang sering dikeluhkan orangtua yaitu keterlambatan bicara. Gangguan ini tampaknya semakin hari dilaporkan meningkat.

Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5-10 persen pada anak sekolah. Anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara dan harus berkonsultasi dengan ahli, bila sampai usia 12 bulan sama sekali belum mengeluarkan ocehan atau babbling, sampai usia 18 bulan belum keluar kata pertama yang cukup jelas, padahal sudah dirangsang dengan berbagai cara, terlihat kesulitan mengatakan beberapa kata konsonan, seperti tidak memahami kata-kata yang kita ucapkan, serta terlihat berusaha sangat keras untuk mengatakan sesuatu, misalnya sampai ngiler atau raut muka berubah.

Penyebab keterlambatan bicara sangat luas dan banyak. Ada yang ringan sampai yang berat, mulai yang bisa membaik hingga yang sulit dikoreksi. Yang pasti, semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan tersebut.

Ada beberapa gangguan yang perlu diperhatikan orangtua:
1. Disfasia

Gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan kemampuan anak seharusnya. Ditengarai gangguan ini muncul karena adanya ketidaknormalan pada pusat bicara yang ada di otak. Anak dengan gangguan ini pada usia setahun belum bisa mengucapkan kata spontan yang bermakna, misalnya mama atau papa.

Kemampuan bicara reseptif (menangkap pembicaraan orang lain) sudah baik tapi kemampuan bicara ekspresif (menyampaikan suatu maksud) mengalami keterlambatan. Karena organ bicara sama dengan organ makan, maka biasanya anak ini mempunyai masalah dengan makan atau menyedot susu dari botol.

2. Gangguan disintegratif pada kanak-kanak (Childhood Diintegrative Disorder/CDD)
Pada usia 1-2 tahun, anak tumbuh dan berkembang dengan normal, kemudian kehilangan kemampuan yang telah dikuasainya dengan baik. Anak berkembang normal pada usia 2 tahun pertama seperti kemampuan komunikasi, sosial, bermain dan perilaku. Namun kemampuan itu terganggu sebelum usia 10 tahun, yang terganggu di antaranya adalah kemampuan bahasa, sosial, dan motorik.

3. Sindrom Asperger
Gejala khas yang timbul adalah gangguan interaksi sosial ditambah gejala keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan, dan aktivitas. Anak dengan gangguan ini mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi sosial. Ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi nonverval (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap badan), tidak bisa bermain dengan anak sebaya, kurang menguasai hubungan sosial dan emosional.

4. Gangguan multisystem development disorder (MSDD)
MSDD digambarkan dengan ciri-ciri mengalami problem komunikasi, sosial, dan proses sensoris (proses penerimaan rangsang indrawi). Ciri-cirinya yang jelas adalah reaksi abnormal, bisa kurang sensitif atau hipersensitif terhadap suara, aroma, tekstur, gerakan, suhu, dan sensasi indra lainnya. Sulit berpartisipasi dalam kegiatan dengan baik, tetapi bukan karena tertarik, minat berkomunikasi dan interaksi tetap normal tetapi tidak bereaksi secara optimal dalam interaksinya. Ada masalah yang terkait dengan keteraturan tidur, selera makan, dan aktivitas rutin lainnya

1. Gender analisis yang dipakai dalam buku

    Buku Kenakalan Remaja menggunakan gender analisis berdasarkan Teori Struktural Fungsional yang dilandasi oleh fundamental pemikiran, bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat atau family is basic unit of society. Keluarga mempunyai porsi peran yang sangat vital dalam mendidik dan mempersiapkan anak-anaknya untuk menyesuaikan diri ke dalam kehidupan dunia luar. Tanpa ada peran dan fungsi keluarga, maka generasi muda tidak akan mempunyai karakter dan perilaku yang baik di kemudian hari. (alinea pertama halaman 13)

    Teori struktural-fungsional yang digunakan dalam gender analisis juga menyangkut teori sistem yang menjelaskan adanya komponen-komponen yang saling bergantung antara satu dengan yang lain. Dalam studi gender ini digunakan logika berpikir secara teori struktural-fungsional dan teori system, bahwa keluarga terdiri dari anggota-anggota keluarga yang saling berpengaruh satu dengan yang lain. Keluarga mempunyai aturan dan keluarga menjalankan fungsinya. Apabila keluarga mempunyai struktur yang kokoh dan menjalankan semua fungsinya dengan optimal, maka akan menghasilkan outcome yang baik pada seluruh anggota keluarga. (alinea kedua halaman 13)

    Disamping peraturan dan fungsi yang ada di keluarga, pihak sekolah juga mempunyai andil besar dalam aspek kognitif dan psikomotorik. Dengan kata lain lingkungan memberikan kontribusi pada perkembangan anak. Semakin jelas bahwa ada keterkaitan antara individu (perkembangan remaja), keluarga (sebagai fondasi primer remaja) dan masyarakat (sebagai pengaruh baik atau buruknya perkembangan kepribadian anak) sesuai dengan model ekologi keluarga berkaitan dengan sosialisasi anak dari Bronfenbrenner. Kenakalan remaja merupakan suatu outcome dari proses hubungan antara anggota keluarga dan antara sistem keluarga dan system lingkungan sekitarnya. (alinea ketiga dan keempat hlaman 13)

    Pendekatan struktural-fungsional juga menekankan pada keseimbangan system yang stabil dalam keluarga dan kestabilan sistem dalam masyarakat. Pendekatan ini berfungsi untuk menganalisis peran keluarga agar dapat berfungsi dengan baik untuk menjaga keutuhan keluarga dan masyarakat. (alinea keempat halaman 32)

    2. Perbedaan hubungan dan perilaku antara :

      a.  Ayah dan anak laki-laki

      Seorang ayah yang ideal adalah ayah yang menyadari tanggung jawabnya sebagai pelindung keluarga dan turut bertanggung jawab dalam pengasuhan anaknya, mulai anak lahir sampai dewasa. Sebagai pengasuh, seorang ayah dapat melakukan berbagai cara untuk menstimulasi perkembangan psiko-sosial anaknya. Dalam hal pendidikan, peran ayah dalam keluarga sangat penting untuk dijadikan panutan. Terutama bagi anak laki-lakinya, ayah menjadi model (role model), teladan untuk perannya kelak sebagai seorang laki-laki. (alinea kedua halaman 86)

      Seorang ayah di Negara Barat memiliki hubungan dan perilaku terhadap anak laki-laki cenderung tegas, dalam hal mendidik anak laki-lakinya mengenai bagaimana membedakan hal-hal yang salah atau benar dan lebih memperhatikan kesuksesan anak laki-lakinya. (alinea ketiga halaman 83).

      Setengah dari contoh pada buku Kenakalan Remaja melaporkan adanya hubungan yang hangat dan mendukung dari pihak ayah terhadap anak laki-lakinya yang tercermin dari perilaku ayah yang menanyakan pendapat, mendengarkan pendapat, menghargai pendapat, memberikan kepedulian, mencintai dengan hangat, membantu pekerjaan, tertawa bersama, bertindak sportif dan pengertian, dan menyatakan cinta kepada anaknya. (alinea pertama halaman 100)

      Ayah dan anak laki-lakinya mempunyai hubungan kehangatan dan dukungan paling maksimal yaitu perlakuan ayah yang mencintai dengan hangat, dan menghargai pendapat anaknya. Adapun hubungan kehangatan dan dukungan yang paling minimal dilakukan ayah pada anak laki-lakinya adalah perlakuan ayah yang menanyakan pendapat dan menyatakan cinta pada anaknya. (alinea pertama halaman 100)

      Selanjutnya kurang dari sepertiga dari jumlah contoh laki-laki melaporkan adanya hubungan yang keras dan kasar dari ayah terhadap anak laki-lakinya yang tercermin dalam perilaku ayah yang marah-marah, mengkritik pendapat, membentak atau berteriak, mengabaikan mengancam, menbuat perasaan bersalah, memukul menarik rambut, bertengkar, menangis tersedu-sedu apabila tidak puas dengan perbuatan anak laki-lakinya, menyindir atau sumpah serapah, berbicara dengan  kasar, dan memanggil, dengan panggilan yang jelek terhadap anak laki-lakinya. Selain itu perlakuan kekerasan dari ayah terhadap anak laki-lakinya terutama berhubungan dengan perilaku fisik  seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami sekitar sepersepuluh contoh laki-laki. (alinea kedua halaman 100)

      Berdasarkan analisis gender didapatkan hasil, bahwa proporsi contoh laki-laki adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ayahnya terhadap anak laki-lakinya untuk perilaku menanyakan pendapat, mendengarkan dengan cermat, dan mencintai dengan hangat dibandingkan dengan contoh perempuan. Adapun perilaku ayah yang bersifat kekerasan dan kekasaran terhadap anaknya lebih tinggi pada contoh laki-laki dibandingkan contoh perempuan. (alinea ketiga halaman 100-101)

      b.  Ayah dan anak perempuan

      Sosok ayah yang ideal merupakan ayah yang menyadari tanggung jawabnya sebagai pelindung keluarga dan turut bertanggung jawab dalam pengasuhan anaknya, mulai anak lahir sampai dewasa. Sebagai pengasuh, seorang ayah dapat melakukan berbagai cara untuk menstimulasi perkembangan psiko-sosial anaknya . Dalam hal pendidikan, peran ayah dalam keluarga sangat penting untuk dijadikan panutan. Terutama bagi anak perempuan, fungsi ayah juga sangat penting yaitu sebagai pelindung dan penyayang serta model teladan tentang seorang pemimpin. (alinea kedua halaman 86)

      Ayah dan anak perempuannya mempunyai bonding yang jauh lebih kuat, selamanya dan tidak terpisahkan meskipun sudah menikah, artinya anak perempuan akan tetap menjadi anak perempuan bagi ayahnya. Bahkan anak perempuan menjadi sumber kebahagiaan yang yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak laki-lakinya, dan mungkin dapat membuat ayahnya menangis dibandingkan dengan anak laki-lakinya.. (alinea pertama halaman 84)

      Setengah dari contoh yang ada pada buku Kenakalan Remaja melaporkan adanya hubungan yang hangat dan mendukung dari pihak ayah terhadap anak lperempuannya yang tercermin dari perilaku ayah yang menanyakan pendapat, mendengarkan pendapat, menghargai pendapat, memberikan kepedulian, mencintai dengan hangat, membantu pekerjaan, tertawa bersama, bertindak sportif dan pengertian, dan menyatakan cinta kepada anaknya. (alinea pertama halaman 100)

      Ayah dan anak perempuannya mempunyai hubungan kehangatan dan dukungan paling maksimal yaitu perlakuan ayah tertawa bersama apabila ada hal-hal yang lucu. Adapun hubungan kehangatan dan dukungan yang paling minimal dilakukan ayah pada perempuannya adalah perlakuan ayah yang menanyakan pendapat dan menyatakan cinta pada anaknya. (alinea pertama halaman 100)

      Selanjutnya kurang dari seperlima dari jumlah contoh perempuan melaporkan adanya hubungan yang keras dan kasar dari ayah terhadap anak perempuan yang tercermin dalam perilaku ayah yang marah-marah, mengkritik pendapat, membentak atau berteriak, mengabaikan mengancam, menbuat perasaan bersalah, memukul menarik rambut, bertengkar, menangis tersedu-sedu apabila tidak puas dengan perbuatan anak laki-lakinya, menyindir atau sumpah serapah, berbicara dengan  kasar, dan memanggil, dengan panggilan yang jelek terhadap anak laki-lakinya. Selain itu perlakuan kekerasan dari ayah terhadap anak perempuannya terutama berhubungan dengan perilaku fisik  seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami sekitar seperduapuluh contoh perempuan. (alinea kedua halaman 100)

      Berdasarkan analisis gender didapatkan hasil, bahwa proporsi contoh perempuan adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ayahnya terhadap perempuannya untuk perilaku memberitahu kalau peduli, membantu mengerjakan sesuatu, tertawa bersama, dan mengatakan cinta dibandingkan dengan contoh laki-laki. (alinea ketiga halaman 100-101)

      c. Ibu dan anak laki-lakis

      Hubungan ibu kepada anak laki-lakinya dalam hal perhatian lebih kepada makanan daripada hal yang lainnya dan memberikan kenyamanan dibandingkan dengan anak perempuannya. (alinea pertama halaman 84).

      Hasil menunjukan tiga-perempat dari jumlah contoh pada buku Kenakalan Remaja melaporkan adanya hubungan yang hangat dan mendukung dari pihak ibu terhadap anak laki-lakinya. Diantara pernyataan-pernyataan hubungan kehangatan dan dukungan paling maksimal dilakukan oleh ibu pada anak laki-lakinya adalah perlakuan ibu yang menghargai pendapat dan perbuatannya anaknya. Adapun hubungan kehangatan dan dukungan yang paling minimal dilakukan ibu pada anak laki-lakinya adalah perlakuan ibu yang menyatakan cinta pada anaknya. (alinea pertama halaman 101)

      Selanjutnya kurang dari setengah dari jumlah contoh melaporkan adanya hubungan yang keras dan kasar dari ibu terhadap anaknya. Selain itu perlakuan kekerasan dari ibu terhadap anak laki-lakinya terutama berhubungan dengan perilakuan fisik  seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami sekitar seperlima contoh laki-laki. (alinea kedua halaman 101)

      Berdasarkan analisis gender didapatkan hasil, perilaku ibu yang bersifat kekerasan dan kekasaran terhadap anaknya lebih tinggi terjadi pada contoh laki-laki untuk hampir semua butir pernyataan dibandingkan dengan contoh perempuan, kecuali perilaku marah-marah, mengkritik, dan bertengkar pada anaknya.  (alinea ketiga halaman 101)

      d. Ibu dan anak perempuan

      Hasil menunjukan tiga-perempat dari jumlah contoh pada buku Kenakalan Remaja melaporkan adanya hubungan yang hangat dan mendukung dari pihak ibu terhadap anak perempuannya. Diantara pernyataan-pernyataan hubungan kehangatan dan dukungan paling maksimal dilakukan oleh ibu pada anak perempuan adalah perlakuan ibu yang menghargai pendapat dan perbuatannya anaknya dan tertawa bersama apabila ada hal-hal yang lucu. Adapun hubungan kehangatan dan dukungan yang paling minimal dilakukan ibu pada anak perempuan adalah perlakuan ibu yang menyatakan cinta pada anaknya. (alinea pertama halaman 101)

      Selanjutnya kurang dari setengah dari jumlah contoh melaporkan adanya hubungan yang keras dan kasar dari ibu terhadap anaknya. Selain itu perlakuan kekerasan dari ibu terhadap anak perempuannya terutama berhubungan dengan perilakuan fisik  seperti memukul dan menarik rambut atau pakaian apabila marah dialami sekitar sepersepuluh contoh perempuan. (alinea kedua halaman 101)

      Berdasarkan analisis gender didapatkan hasil, bahwa proporsi contoh perempuan adalah lebih tinggi dalam mempunyai hubungan yang hangat dan mendukung yang dilakukan oleh ibu terhadap anak perempuannya. (alinea ketiga halaman 101)

      3. Jenis kenakalan pelajar laki-laki dan perempuan

        a.  Kenakalan Umum

        Merupakan perilaku penyimpangan dari norma yang merugikan diri sendiri namun masih belum melanggar hokum formal. Kenakalan tersebut seperti membolos, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, menyontek, tidak membayar SPP karena terpakai pesta sampai larut malam, duduk-duduk di pinggir jalan, menggoda ‘cewek-cewek tau cowok’, dan merokok serta terlambat sekolah. (alinea ketiga halaman 157)

        Sekitar dua-pertiga sampai tiga-perempat contoh melaporkan tentang kebiasaan perilakunya bergerombol saat pulang atau pergi ke sekolah, dan pulang sekolah langsung main dahulu, terlambat datang ke sekolah. Kebiasaan membolos sekolah tanpa ijin dilaporkan lebih dari setengah conto dan minggat dari rumah minimal pernah dilakukan hampir seperlima contoh. (alinea keempat halaman 159)

        Hasil uji statistik menunjukan kenakalan umum dan kenakalan kriminal serta kenakalan total contoh laki-laki lebih tinggi dari contoh perempuan. Kebiasaan merokok dilakukan hampir setengah contoh dengan frekuensi hampir setiap hari. Kebiasaan menggoda lawan jenis di jalanan hampir tiga-perempat contoh dengan kebiasaan duduk-duduk di pinggir jalan mengganggu rang dan berpesta sampai malam. Kenakalan umum yang cenderung berpeluang terhadap kenakalan kriminal yang dilakukan oleh contoh cukup memprihatinkan dan berhubungan dengan penggunaan media media menuju kebebasab seks yaiitu nonton VCD porno dan melihat gambar porno. Kenakalan ini mengarah pada pergaulan seks bebas yang tidak sedikit berkaitan dengan kasus perkosaan. (alinea kelima halaman 159)

        Contoh laki-laki menunjukan kenakalan remaja yang lebih banyak dibandingkan contoh perempuan. Contoh laki-laki mendominasi perbuatan kenakalan umum mulai dari membolos sekolah, berpesta sampai malam, duduk di pinggir jalan mengganggu orang, menggoda “cewek tau cowok’ di jalanan, minggat dan merokok. Contoh perempuan banyak melakukan kenakalan umum seperti membolos, berpesta sampai malam, minggat dan merokok. (alinea keenam halaman 160)

        b. Kenakalan Kriminal

        Merupakan perilaku penyimpangan dari norma dan bahkan melanggar norma hukum formal. Kenakalan kriminal menyangkut prbuatan ditangkap polisi karena berkelahi, narkoba, minuman beralkohol atau membawa senjata tajam, masuk ke rumah orang tanpa ijin, mencuri barang, memukul dan menyerang, melakukan hubungan seks diluar nikah, grafiti ‘corat coret’ tembok, nge-lem, dan menonton gambar porno. (alinea ketujuh halaman 160)

        Berdasarkan analisis data kebiasaan minum beralkohol 1,4 persen dan menggunakan narkoba 8,8 persen. Kenakalan criminal yang paling banyak dilakukan oleh responden adalah bergerombol saat pulang atau pergi sekolah 71,5 persen, mencorat-coret tembok milik umum 52, 6 persen, berpesta pora sampai malam 41,1 persen, berkelahi sesama pelajar meskipun frekuensinya jarang 40 persen, dan secara sengaja merusak benda milik orang lain 34,5 persen. (alinea kedelapan halaman 161)

        Kenakalan kriminal lain yang pernah dilakukan dan cukup membahayakan adalah memukul seseorang sampai terluka 20,4 persen, memukul seseorang dengan senjata 12,3 persen, dan membawa senjata tajam ke sekolah 13 persen. Selain itu juga ditemukan ada 25,3 persen contoh yang menghalalkan segala cara demi kelancaran rencana yang akan dilakukan, 4,6 persen melaporkan pernah mencuri barang, 7 persen contoh mengendarai motor atau mobil milik orang lain tanpa permisi dan 7,8 persen contoh pernah menggunakan senjata atau kekuatan untuk mendapatkan uang atau barang lain. (alinea kesembilan halaman 161)

        Kurang dari seperduapuluh contoh sekolah negeri dan sepersepuluh contoh swasta pernah melakukan hubungan seks bebas di luaar nikah dengan frekuensi hampir tiap hari, maksimum tiga kali per minggu dan satu kali per bulan. (alinea kesepuluh halaman 161)

        4. Proses kenakalan remaja

          Hasil analisis Multivariate of Covariance (MANCOVA) dapat ditarik kesimpulan bahwa proses kenakalan remaja baik umum maupun kriminal  dipengaruhi oleh oleh jenis kelamin contoh yang lebih besar pada contoh laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Penelitian ini menjelaskan bahwa pengasuhan ibu yang kurang baik berpengaruh nyata pada tingkat kenakalan umum dan criminal, sedangkan pengasuhan ayah yang kuarang baik hanya berpengaruh pada tingkat kenakalan umum saja. (alinea pertama halaman 173)

          Kenakalan umum maupun criminal masing-masing dipengaruhi oleh sifat kepribadian. Contoh yang mempunyai sifat semakin maskulin dan ekstrovert cenderung untuk berperilaku nakal dibandingkan dengan contoh yang mempunyai sifat feminism dan introvert. Kenakalan umum maupun kriminal, masing-masing dipengaruhi oleh pengasuhan ibunya dan ayahnya. Pengasuhan ibu dan ayah terhadap contoh yang lebih dilandasi oleh kehangatan dan dukungan akan mempengaruhi pada penurunan tingkat kenakalan remaja. (alinea kedua halaman 173)

          Proses kenakalan remaja dimulai dari keadaan lingkungan mikro dari keluarga inti yang tidak stabil dan harmonis akan membuat remaja merasa tidak aman dan nyaman, seperti keadaan pengasuhan anak cenderung kasar dan keras, tidak demokratis, komunikasi dan interaksi keluarga kurang harmonis, bonding natara keluarga kurang dekat, fungsi keluarga kurang optimal, sosial ekonomi keluarga kurang baik dan tekanan ekonomi keluarga tinggi. (alinea pertama halaman 204)

          Ditambah lagi dengan keadaan lingkungan meso yang tidak memberikan dukungan dan bantuan baik moril maupun material, maka akan membuat anak merasa tidak mempunyai arti hidup yang bermakna, dan mulai merasa sepi dan hampa. Selanjutnya kenakalan remaja mulai muncul ketika keadaan lingkungan meso di sekolah yang tidak memfasilitasi dengan baik akan membuat anak semakin stress dan frustasi. Hal ini  karena tidak adanya fasilitas yang memadai, rasio kelas dan murid rendah, rasio guru dan murid rendah, peran komite sekolah kurang optimal, keadaan guru BP tidak ada, dan kurangnya kordinasi sekolah denga orang tua. (alinea ketiga halaman 204-205)

          Dampak dari keterbatasan kemampuan kinerja sistem keluarga dan lingkungan sekolah membuat pelajar semakin stres dan frustasi, akibatnya pelajar tidak tersalurkan energinya, pelajar tidak dapat olahraga dengan bebas, dan pelajaran ekstrakurikuler tidak memadai dan mahal. (alinea keempat halaman 205)

          Outcome dari pelajar sebagai akibat dari kurang berfungsinya sistem keluarga dan system lingkungan sekolah adalah kenakalan remaja. Diantaranya adalah pelajar merasa stres, pelajar kurang menghargai diri sendiri, pelajar berperilaku agresif, dan pelajar berperilaku melakukan kenakalan umum seperti membolos atau terlambat, nongkrong di jalan, mengganggu teman, menyelewengkan uang SPP dan merokok. Pelajar yang melakukan kenakalan kriminal diantaranya mengonsumsi narkoba, minuman keras, mamalak atau mencuri, berkelahi dan menyakiti orang lain, dan melakukan free sex.